Rabu, 05 Januari 2011

Pemerintah Kabupaten Jepara

IDwebhost.com Trend Hosting Indonesia -> Pemerintah Kabupaten Jepara meminta warganya berhati-hati mengonsumsi ketela sebagai makanan alternatif.Jenis ketela yang perlu diwaspadai adalah karet dan markonah.

Peristiwa tewasnya enam warga Jebol, Kecamatan Mayong akibat keracunan tiwul cukup ironis. Sebab terhitung sejak Januari-Oktober 2010,total produksi padi di Kabupaten Jepara sebanyak 214.600 ton gabah kering giling (GKG). Jika dikonversi dalam bentuk beras, maka total produksi sebanyak 135.600 ton beras. Sementara kebutuhan beras masyarakat Jepara pada tahun 2010 hanya 118.493 ton beras. Kalkulasi ini diperoleh dari perhitungan konsumsi tiap orang sebanyak 0,3 kilogram (per hari), dikalikan jumlah penduduk Jepara sebanyak 1.097.158 jiwa dikalikan 30 (hari) dikalikan 12 (bulan). Jika dihitung maka pada 2010 Kabupaten Jepara masih surplus produksi beras hingga 17.017 ton beras. Meski produksi padi surplus hingga belasan ton beras, namun Pemkab Jepara melalui Kantor Ketahanan Pangan (KKP) tetap menggencarkan progam diversifikasi.

Progam diversifikasi pangan memang dianjurkan agar masyarakat tidak selalu bergantung pada beras sebagai bahan pokok utama penghasil karbohidrat. Sebab ada sejumlah bahan makanan lain seperti ketela, umbi-umbian dan jagung yang juga dapat menghasilkan karbohidrat. Kepala Kantor Ketahanan Pangan kabupaten Jepara Bambang Haryono Wibowo mengatakan, pihaknya memang mengimbau agar warga mulai mengonsumsi bahan makanan lain selain beras sebagai penghasil karbohidrat. Namun, warga juga diminta berhati-hati dalam memilih bahan makanan selain nasi. Khusus untuk ketela, pihaknya sudah mengimbau agar warga menghindari ketela pahit seperti jenis ketela karet dan ketela markonah.

Dua jenis ketela ini sebenarnya memang tidak diperuntukkan untuk konsumsi manusia secara langsung.Sebab kandungan Asam Sianida (HCN) yang dikandung Ketela Markonah memang tinggi. Ketela jenis ini mestinya dimanfaatkan untuk diolah menjadi serbuk tepung tapioka (pati). “Kalau dimakan langsung sangat berbahaya.Kalau ketela jenis lain seperti singkong juga mengandung Sianida namun kadarnya rendah, kalau dicuci bersih terus diolah baik direbus atau digoreng tidak ada masalah,”kata Bambang kemarin. Selama ini,progam diversifikasi pangan di Jepara belum berjalan optimal. Rata-rata warga Jepara masih tetap menganggap nasi sebagai makanan pokok utama.Jika ada yang mengonsumsi ketela atau umbi-umbian sifatnya hanya makanan selingan,bukan pokok.Bambang menyangkal jika alasan utama konsumsi ketela atau umbi-umbian ini dipengaruhi faktor ekonomi, sebab ada juga faktor lainnya.

Dia mencontohkan kasus di Desa Jebol, Kecamatan Mayong, rata-rata warga yang mengonsumsi ketela karena kebetulan memang aktivitasnya mencari ketela markonah untuk dibuat menjadi serbuk tepung. Namun sayangnya, mestinya ampas dari ketela markonah tersebut tidak dikonsumsi manusia namun dibuat untuk campuran makanan ternak.“Ini yang akan jadi fokus kita ke depan,”terangnya. Berdasar data dari DInas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara, total produksi ketela dan umbi-umbian tahun 2010 mencapai 153.278 ton. Sedang luasan lahan yang digunakan untuk menanam ketela seluas 9.932 hektare. Lahan ribuan hektar ini tersebar hampir di 16 kecamatan yang ada di Jepara.Namun terbanyak berada di kecamatan yang berada di Lereng Gunung Muria seperti Kecamatan Batealit, Bangsri dan Keling.

Kepala Distanak Kabupaten Jepara Wasiyanto mengatakan minat masyarakat menanam ketela markonah memang terhitung tinggi, sebab untuk tiap satu hektare, dapat menghasilkan 20 ton ketela markonah. Selama ini pihaknya bersama dengan petugas dari Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) sudah sering melakukan penyuluhan terkait cara-cara pengolahan yang benar hasil-hasil pertanian warga Jepara.Wasiyanto mengakui penyuluhan tersebut memang tidak dapat menjangkau seluruh warga Jepara, sebab penyuluhan lebih banyak dilakukan di masingmasing kelompok tani. Wasiyanto juga meminta agar warga sebaiknya menghindari memakan ketela markonah untuk dikonsumsi.

Namun,jika tetap akan dikonsumsi harus diolah dengan cara yang benar.Misalnya dalam proses pengeringan harus benar-benar maksimal.Sebab jika tidak kering, justru malah akan muncul bakteri atau jamur. Hal ini diperparah dengan kandungan Asam Sianida yang memang ada di dalamnya.

0 komentar: