Minggu, 22 Mei 2011

Peningkatan produksi rumput laut di Sulsel

Peningkatan produksi rumput laut di Sulsel belum ditunjang dengan ketersediaan infrastruktur pabrik pengolahan terintegrasi. Dari dua pabrik yang ada,yakni di Takalar dan Maros, hanya dikhususkan pada jenis cattoni, sementara gracilaria masih harus dikirim ke Pulau Jawa.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel Iskandar mengklaim, produksi rumput laut sudah mencapai 1 juta ton. Karena itu, harus ada dukungan infrastruktur pabrik pengolahan. Apalagi, secara nasional, produksi rumput laut daerah ini mampu memberikan kontribusi sekitar 60% terhadap industri agar-agar ke PT Agarindo selaku penghasil agar-agar terbesar yang ada di Tangerang

“Produksi rumput laut kami harus memiliki nilai tambah, makanya ke depan didorong untuk pengembangan industri di sektor itu,khususnya rumput laut jenis gracilaria yang bisa diolah menjadi agar- agar,” ujarnya. Untuk industri rumput laut, Sulsel telah memiliki dua, yakni di Takalar dan Maros.

Namun, itu baru mencakup satu jenis saja cattoni dan diharapkan gracilaria juga bisa dikembangkan hal serupa.Apalagi, potensi untuk pengembangannya cukup besar, seperti di daerah Luwu yang memang penghasil rumput laut terbanyak untuk jenis gracilaria. “Selama ini kebutuhan pangan untuk agar dipasok dari luar Sulsel, padahal kami kan penyumbang terbesar.

Alangkah jauh lebih baik, jika kami juga yang memproduksinya dan mengirimkannya keluar dalam bentuk industri,” tuturnya. Tidak saja sektor rumput laut yang berpotensi dikembangkan. Sektor perikanan tangkap juga menjanjikan dengan potensi yang dimiliki mencapai 929.720 ton.

Khususnya untuk jenis ikan bandeng yang mampu dihasilkan berkisar 50.000 ton tahun lalu dan ditargetkan di 2013 bisa mencapai 80.000 ton. “Potensi ikan tangkap kami cukup besar, hanya yang mampu dieksploitasi baru berkisar 300.000 ton atau 30%. Makanya, nelayan diharapkan mampu memanfaatkan potensi tersebut,” katanya.

Makanya, dalam rangka mendukung program tersebut, tahun ini melalui bantuan APBN akan diberikan sekitar 16 kapal bertonase 30 ton.Nanti, akan di-support sekitar empat unit kapal bertonase serupa dari pemprov. Sementara itu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menyatakan, tahun ini,dari potensi yang cukup besar itu bisa diperoleh sekitar 400.000 ton sampai 500.000 ton.

Target sebesar itu diharapkan bisa tercapai, apalagi dukungan kapal penangkap ikan sudah ada sehingga seluruh daerah bisa dijangkau, utamanya yang berada di pedalaman. “Sebenarnya potensi kami cukup bagus, hanya kemampuan nelayan dalam menangkap ikan sangat terbatas,” tandasnya.

Dia mencontohkan,kemampuan menangkap ikan cakalang nelayan per tahun berkisar 50.000 ton.Namun,dari hasil itu yang mampu diekspor ke beberapa negara hanya berkisar 4.000 ton, berarti kualitas penangkapan ikan nelayan harus diperbaiki. Kebutuhan akan ikan cakalang dunia tidak terbatas seharusnya itu bisa dimaksimalkan. Demikian catatan online Jatiasih-x yang berjudul Peningkatan produksi rumput laut di Sulsel.

Rabu, 05 Januari 2011

Pemerintah Kabupaten Jepara

IDwebhost.com Trend Hosting Indonesia -> Pemerintah Kabupaten Jepara meminta warganya berhati-hati mengonsumsi ketela sebagai makanan alternatif.Jenis ketela yang perlu diwaspadai adalah karet dan markonah.

Peristiwa tewasnya enam warga Jebol, Kecamatan Mayong akibat keracunan tiwul cukup ironis. Sebab terhitung sejak Januari-Oktober 2010,total produksi padi di Kabupaten Jepara sebanyak 214.600 ton gabah kering giling (GKG). Jika dikonversi dalam bentuk beras, maka total produksi sebanyak 135.600 ton beras. Sementara kebutuhan beras masyarakat Jepara pada tahun 2010 hanya 118.493 ton beras. Kalkulasi ini diperoleh dari perhitungan konsumsi tiap orang sebanyak 0,3 kilogram (per hari), dikalikan jumlah penduduk Jepara sebanyak 1.097.158 jiwa dikalikan 30 (hari) dikalikan 12 (bulan). Jika dihitung maka pada 2010 Kabupaten Jepara masih surplus produksi beras hingga 17.017 ton beras. Meski produksi padi surplus hingga belasan ton beras, namun Pemkab Jepara melalui Kantor Ketahanan Pangan (KKP) tetap menggencarkan progam diversifikasi.

Progam diversifikasi pangan memang dianjurkan agar masyarakat tidak selalu bergantung pada beras sebagai bahan pokok utama penghasil karbohidrat. Sebab ada sejumlah bahan makanan lain seperti ketela, umbi-umbian dan jagung yang juga dapat menghasilkan karbohidrat. Kepala Kantor Ketahanan Pangan kabupaten Jepara Bambang Haryono Wibowo mengatakan, pihaknya memang mengimbau agar warga mulai mengonsumsi bahan makanan lain selain beras sebagai penghasil karbohidrat. Namun, warga juga diminta berhati-hati dalam memilih bahan makanan selain nasi. Khusus untuk ketela, pihaknya sudah mengimbau agar warga menghindari ketela pahit seperti jenis ketela karet dan ketela markonah.

Dua jenis ketela ini sebenarnya memang tidak diperuntukkan untuk konsumsi manusia secara langsung.Sebab kandungan Asam Sianida (HCN) yang dikandung Ketela Markonah memang tinggi. Ketela jenis ini mestinya dimanfaatkan untuk diolah menjadi serbuk tepung tapioka (pati). “Kalau dimakan langsung sangat berbahaya.Kalau ketela jenis lain seperti singkong juga mengandung Sianida namun kadarnya rendah, kalau dicuci bersih terus diolah baik direbus atau digoreng tidak ada masalah,”kata Bambang kemarin. Selama ini,progam diversifikasi pangan di Jepara belum berjalan optimal. Rata-rata warga Jepara masih tetap menganggap nasi sebagai makanan pokok utama.Jika ada yang mengonsumsi ketela atau umbi-umbian sifatnya hanya makanan selingan,bukan pokok.Bambang menyangkal jika alasan utama konsumsi ketela atau umbi-umbian ini dipengaruhi faktor ekonomi, sebab ada juga faktor lainnya.

Dia mencontohkan kasus di Desa Jebol, Kecamatan Mayong, rata-rata warga yang mengonsumsi ketela karena kebetulan memang aktivitasnya mencari ketela markonah untuk dibuat menjadi serbuk tepung. Namun sayangnya, mestinya ampas dari ketela markonah tersebut tidak dikonsumsi manusia namun dibuat untuk campuran makanan ternak.“Ini yang akan jadi fokus kita ke depan,”terangnya. Berdasar data dari DInas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara, total produksi ketela dan umbi-umbian tahun 2010 mencapai 153.278 ton. Sedang luasan lahan yang digunakan untuk menanam ketela seluas 9.932 hektare. Lahan ribuan hektar ini tersebar hampir di 16 kecamatan yang ada di Jepara.Namun terbanyak berada di kecamatan yang berada di Lereng Gunung Muria seperti Kecamatan Batealit, Bangsri dan Keling.

Kepala Distanak Kabupaten Jepara Wasiyanto mengatakan minat masyarakat menanam ketela markonah memang terhitung tinggi, sebab untuk tiap satu hektare, dapat menghasilkan 20 ton ketela markonah. Selama ini pihaknya bersama dengan petugas dari Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) sudah sering melakukan penyuluhan terkait cara-cara pengolahan yang benar hasil-hasil pertanian warga Jepara.Wasiyanto mengakui penyuluhan tersebut memang tidak dapat menjangkau seluruh warga Jepara, sebab penyuluhan lebih banyak dilakukan di masingmasing kelompok tani. Wasiyanto juga meminta agar warga sebaiknya menghindari memakan ketela markonah untuk dikonsumsi.

Namun,jika tetap akan dikonsumsi harus diolah dengan cara yang benar.Misalnya dalam proses pengeringan harus benar-benar maksimal.Sebab jika tidak kering, justru malah akan muncul bakteri atau jamur. Hal ini diperparah dengan kandungan Asam Sianida yang memang ada di dalamnya.